QRIS Hadir, UMKM Terbantu!
Era sekarang ini sangat membantu segala aspek, terutama UMKM. Dengan hadir nya QRIS menjadi penyatu alat transaksi pembayaran dalam satu barcode sangat memudahkan pelaku usaha.
Digitalisasi yang berkembang pun membantu dalam pemasaran sekarang ini, kita tidak perlu menyediakan brosur untuk diberikan kepada orang seperti dahulu, sekarang kita dapat memasarkan usaha kita di sosial media
Namun,banyak pelaku usaha di masih berpikir bahwa membangun kehadiran digital berarti membangun toko online gratis di Shopee atau Tokopedia, lalu selesai. Padahal itu baru separuh jalannya. Separuh lagi ada di bagian yang sering diabaikan: sistem pembayaran yang mulus.
Mengapa omzet harian sangat bergantung pada cara bayar
Bayangkan skenario ini: seorang pelanggan sudah tertarik dengan paket facial senilai Rp350.000 yang dipromosikan lewat konten Instagram. Dia klik link bio, masuk ke halaman pemesanan, tapi tidak menemukan opsi pembayaran instan. Dia harus transfer manual, konfirmasi, tunggu verifikasi. Dua dari tiga orang di posisi itu akan mundur. Bukan karena tidak mau beli, tapi karena prosesnya terasa mahal secara waktu.
QRIS memotong gesekan itu habis. Satu kode, semua dompet digital terbaca, transaksi selesai dalam hitungan detik. Untuk usaha yang beroperasi lewat platform jualan online atau bahkan hanya WhatsApp dan direct message, ini bukan kemewahan operasional, ini infrastruktur dasar.
Peluang usaha online justru paling menguntungkan ketika biaya akuisisi pelanggan rendah dan nilai transaksi per orang bisa naik lewat bundling layanan. Riset dari Bank Indonesia mencatat volume transaksi QRIS pada kuartal pertama 2024 menembus 1,8 miliar transaksi, angka yang mencerminkan betapa konsumen Indonesia sudah sangat terbiasa bayar lewat satu pemindaian.
Pelaku usaha yang serius soal cara memulai bisnis online punya keuntungan struktural: margin produk lokal bisa mencapai 60-70%, dan loyalitas pelanggannya tinggi kalau pengalaman transaksi pertama berjalan lancar. Satu pelanggan nail art yang puas rata-rata kembali 3-4 kali dalam sebulan, kalkulasi itu berubah drastis kalau proses bayarnya saja sudah membuat frustrasi.
Toko yang beroperasi lintas platform, misalnya menggabungkan feed TikTok Shop dengan katalog di media sosial dan layanan walk-in fisik, butuh satu titik pembayaran yang konsisten. QRIS menyatukan semua itu tanpa perlu integrasi teknis yang rumit. Tidak perlu tim IT, tidak perlu langganan software mahal.
Bisnis online yang menguntungkan bukan soal viral semata. Ujung-ujungnya kembali ke satu pertanyaan sederhana: seberapa mudah pelanggan bisa membayar kamu hari ini?
Data Pertumbuhan 34% Pengguna QRIS 2023 dan Artinya bagi Pelaku Usaha Kecil
Angka 34% bukan sekadar statistik tahunan. Itu sinyal yang cukup keras untuk diabaikan begitu saja oleh siapa pun yang sedang mempertimbangkan cara memulai bisnis online atau memperluas jangkauan usahanya.
Bank Indonesia mencatat volume transaksi QRIS sepanjang 2023 menembus 2,95 miliar transaksi, naik drastis dari sekitar 1 miliar di tahun sebelumnya. Penggunanya? Tumbuh 34% secara year-on-year, menyentuh angka 45,7 juta pengguna aktif. Bukan tren musiman. Ini pergeseran perilaku yang sudah mengakar.
Yang menarik justru bukan angkanya, melainkan siapa yang ada di baliknya. Mayoritas merchant QRIS saat ini adalah pelaku usaha mikro dan kecil, bukan korporasi besar dengan tim keuangan tersendiri. Warung makan pojok gang, toko thrift di Instagram, lapak minuman kekinian di depan sekolah. Mereka yang dulunya bergantung penuh pada uang tunai kini sudah bisa menerima pembayaran dari pembeli yang dompetnya isinya cuma saldo GoPay.
Bagi pelaku usaha kecil, ini bukan soal keren-kerenan memakai teknologi. Ini soal akses. QRIS membuka pintu ke segmen pembeli yang sebelumnya tidak terjangkau, termasuk generasi yang hampir tidak pernah membawa uang kertas ke mana-mana. Kalau gerai kamu belum menerimanya, artinya kamu secara aktif memotong sebagian dari potensi penjualan harian.
Apa yang sering keliru dipahami soal angka ini
Banyak pemilik usaha membaca berita pertumbuhan pengguna QRIS lalu berpikir, “berarti pembeli saya sudah tahu cara pakainya, jadi tidak perlu saya jelaskan.” Justru sebaliknya.
Pertumbuhan 34% itu berarti puluhan juta orang baru yang baru pertama kali mencoba sistem ini. Mereka butuh pengalaman transaksi yang mulus, bukan QR code yang lecek atau kasir yang bingung mengonfirmasi pembayaran. Titik sentuh pertama menentukan segalanya.
Relevansi ini juga langsung terhubung ke siapa pun yang sedang membangun toko online gratis di platform marketplace atau media sosial. Konsumen yang terbiasa checkout dalam tiga klik di Tokopedia atau Shopee punya ekspektasi yang sama ketika datang ke toko fisik. Pengalaman bayar yang ribet di dunia nyata terasa lebih mengecewakan justru karena standarnya sudah naik.
Bicara soal platform jualan online, data ini juga menunjukkan bahwa segmentasi antara online dan offline makin kabur. Pembeli menemukan produk di Instagram, WhatsApp, atau TikTok Shop, lalu memutuskan pembelian berdasarkan kemudahan transaksi. QRIS menjadi jembatan: pelanggan bisa bayar via dompet digital yang sama yang mereka pakai untuk checkout di e-commerce.
Peluang usaha online yang benar-benar menguntungkan bukan cuma soal produk yang viral. Infrastruktur pembayaran adalah bagian dari proposisi nilai itu sendiri. Usaha yang menerima lebih banyak metode bayar, secara statistik, mencatat nilai transaksi rata-rata yang lebih tinggi karena pembeli tidak dibatasi oleh cash yang ada di dompetnya.
Pertumbuhan 34% itu nyata. Tapi angka itu tidak bekerja otomatis untuk kamu. Ia hanya bekerja kalau kamu sudah siap menyambutnya dengan sistem yang tidak bikin pembeli kabur sebelum selesai bayar.
Kesimpulan
QRIS akan sangat membantu bagi pelaku usaha terutama UMKM, dapat membantu dalam kemudahan pembayaran serta pelayanan, pencatatan keuangan yang sudah terotomatis, tanpa perlu ada kekhawatiran menerima uang palsu karena QRIS sudah terawasi oleh Bank Indonesia. Gunakan QRIS dalam usaha anda dan rasakan manfaatnya.